Kamis, 23 April 2015

Santo Filipus




Filipus Rasul yang berasal berasal dari Betsaida di Galiliea adalah seorang murid Yohanes Pembaptis. Ketika Yohanes memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah, Filipus ada di situ. Penginjil Yohanes mengatakan bahwa Yesus memanggil Filipus sebagai menjadi murid-Nya sehari setelah Ia memanggil Petrus dan Andreas (Yoh1:35-51). Meskipun tidak banyak bercerita tentang dia sesudah kenaikan Yesus, diketahui bahwa Filipus mewartakan Injil di Frigia, sebuah kota tua di Asia Kecil. Klemens daru Aleksandria mengatakan bahwa Filipus menderita penganiayaan hebat dan disalibkan dengan kepala di bawah, sebagaimana dialami Petrus di Roma pada masa pemerintahan Kaisar Domitianus (81-96).

Injil Matius, Markus dan Lukas memasukkan Filipus dalam daftar para rasul sebagai orang nomor lima setelah Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes. Wataknya yang spontan tanpa ragu-ragu terlihat jelas dalam lukisan Injil Santo Yohanes. Ia tanpa ragu-ragu mengikuti Yesus tatkala menerima seruan panggilan Yesus. Keyakinannya tentang kedudukan Yesus sebagai Mesias yang dinantikan Israel dinyatakan jelas kepada Nathanael: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam Kitab Taurat dan para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazareth.” Pada peristiwa perbanyakan roti untuk 5000 orang, Filipus dengan spontan menjawab Yesus: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapatkan sepotong kecil saja”.(Yoh6:7)

Sebuah cerita yang berhubungang dengan kehidupan Filipus sesudah kenaikan Yesus disajikan oleh Eusebius dan penulis Kristen Purba lainnya. Mereka mengatakan bahwa Filipus mewartakan Injil di Frigia dan meninggal di Hierapolis, Asia Kecil. Jenazahnya dimakamkan pula di Hierapolis. Kemudian, relikuinya dikirim ke Roma, sejak tahun 561 disemayankan di Basilik Rasul-Rasul. Polycrates, Uskup Efesus, dalam sebuah suratnya kepada Paus Viktor II (1055-1057), menyebutkan bahwa dua orang anak Filipus hidup di Hierapolis, sedangkan yang lainnya di Efesus. Papias, Uskup Hierapolis mengenal baik anak-anak Filipus. Dari mereka, ia mengatahui bahwa Filipus pernah menghidupkan kembali seorang anak lelaki yang telah meninggal.


Santo Matius




Santo Matius, adalah rasul dan pengarang Injil. Ayahnya bernama Alpheus. Ia sendiri disebut juga Levi. Matius dikenal luas sebagai pemungut cukai di kota Kapernaum, daerah Galilea. Di kalangan ma­syarakat Yahudi, terutama para pemimpinnya, jabatan pemungut cukai dipandang sebagai jabatan kotor. Para pemungut cukai dipandang seba­gai pendosa, yang dapat disejajarkan dengan pembunuh, perampok, penjahat, pelacur dll. Alasannya ialah mereka itu adalah sahabat dan kaki-tangan Romawi, bangsa kafir yang menjajah mereka. Meskipun tuduhan itu tidak seluruhnya benar, namun Matius jelas digolongkan dalam kelompok yang tak terhormat ini. Apa boleh buat karena itulah pandangan umum masyarakat Yahudi.

Segera terlihat bahwa Matius masih berharga di mata Tuhan. Yesus memanggil dia: “Ikutilah Aku!” Panggilan ini menunjukkan bahwa bagi Yesus, Matius masih memiliki titik-titik kebaikan yang dapat diandalkan.
Peristiwa panggilan Matius sempat mencengangkan banyak orang: “Bagaimana mungkin Yesus memanggil dan memilih seorang pendosa menjadi murid-Nya?” Ketika Matius mengadakan perjamuan besar di rumahnya bagi  Yesus  dan  murid-murid-Nya, banyak pemungut cukai hadir juga.

Kaum Farisi dan orang-orang lain yang tidak menyukai Yesus semakin membenci Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama de­ngan para pendosa?” Pada saat itulah, Yesus mengatakan: “Bukan orang sehat yang memerlukan dokter, melainkan orang sakit. Aku da­tang bukan untuk memanggil orang saleh, melainkan orang berdosa.”
Terhadap panggilan Yesus “Ikutilah Aku!”, Matius segera bangun dan mengikuti Yesus. Ia meninggalkan seluruh hartanya yang banyak itu, dan dengan rela memulai suatu hidup yang baru bersama Yesus dan murid-murid lainnya. Sikap tegas Matius menunjukkan bahwa ia memiliki sifat-sifat Kerajaan Allah: semangat kemiskinan dan pelayanan, ter­utama cinta dan iman - kepercayaan akan Yesus.
Matius, seorang terpelajar. Ia dapat berbicara dan menulis dalam bahasa Yunani dan Aramik, suatu dialek bahasa Ibrani. Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui, baik sebelum maupun sesudah dipanggil Yesus. Menurut tradisi lisan purba, setelah Yesus naik ke surga, Matius mewartakan Injil dan berkarya di tengah kaum sebangsanya: orang­-orang Kristen keturunan Yahudi di Palestina atau Siria selama kira-kira 15 tahun. Selama itulah ia menulis Injilnya yang  berisi tentang pengajaran aga­ma.
Santo Matius diperingati setiap 21 September.


Sumber: riwayat Santo-Santa


Santo Stefanus


St. Stefanus, martir pertama



Hai orang-orang yang keras kepala, yang keras hati dan tuli, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu. Siapa dari nabi-nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Bahkan mereka membunuh orang-orang yang lebih dahulu memberitakan kedatangan Orang Benar, yang sekarang telah kamu khianati dan bunuh. Kamu telah menerima hukum Taurat yang disampaikan oleh malaikat-malaikat, akan tetapi kamu tidak menurutinya.”

Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi. Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” Tetapi berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga, mereka menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu. Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus. Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Sesudah berkata demikian, ia pun meninggal. Saulus juga setuju dengan pembunuhan atas Stefanus (Kis 7:51-8:1a).

Bacaan Injil: Yoh 6:30-35).

Dalam menghadapi para penuduhnya yang sudah panas-hati dan siap untuk merajamnya, Stefanus menolak untuk mundur. Sebaliknya, dia menyebut para lawannya itu sebagai orang-orang yang keras kepala, keras hati dan tuli dan selalu menentang Roh Kudus (lihat Kis 7:51). Apakah kita mempunyai keberanian untuk berdiri tegak seperti Stefanus dalam menghadapi para penuduh kita? Apakah kita siap mati demi keyakinan kita tentang Yesus? Stefanus terus mengucapkan kata-kata yang diberikan Allah kepadanya. Dalam artian tertentu kehidupan Stefanus paralel dengan kehidupan Yesus; keduanya penuh dengan rahmat dan mampu membuat mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya.


Stefanus menggambarkan para pemuka agama Yahudi sebagai orang-orang tidak bersunat hati dan telinga. Mengapa demikian? Karena mereka telah menutup diri bagi Allah sedemikian rupa sehingga Dia tidak dapat bergerak dalam diri para pemuka agama tersebut dan menghangatkan diri mereka dengan kasih-Nya. Karena para tokoh agama itu lebih menyukai hikmat mereka sendiri ketimbang hikmat Allah, maka telinga mereka pun dapat dikatakan tidak bersunat. Karena hanya mengandalkan diri pada ‘pembenaran diri mereka sendiri’, maka mereka tidak dapat menerima rahmat Roh Kudus. Mereka menentang semua orang yang dapat membawa mereka kepada pertobatan dalam arti sesungguhnya. Sederhananya, mereka tidak terbuka terhadap sapaan Tuhan Allah.

Marilah kita teladani Stefanus yang begitu berani berbicara mengenai kebenaran tentang Tuhan Yesus. Seperti Yesus dan Stefanus, marilah kita mengampuni para penuduh kita atau mereka yang membenci kita karena kita adalah pengikut-pengikut Kristus, sehingga dengan demikian kehidupan Yesus semakin dimanisfestasikan dalam diri kita. Marilah kita berketetapan hati untuk tidak merasa takut terhadap salib pengejaran/penganiayaan, kesalahpahaman, fitnah, umpatan dan caci-maki dari mereka yang tidak senang kepada kita. Sebaliknya, marilah kita rangkul salib yang diperuntukkan bagi kita itu dengan pengharapan dan sukacita. Barangkali saja kita akan dipanggil untuk memberi kesaksian tentang Yesus seperti yang dilakukan oleh Stefanus. Tidak sedikit saudara-saudari kita di Korea, Jepang, Cina telah membuktikan bahwa mereka pun pantas diberi gelar martir, saksi Kristus, murid Kristus yang sejati. Nama-nama mereka turut menghiasi buku para martir Kristus yang bab pertamanya sudah dimulai sejak zaman Gereja perdana. Sungguh suatu sukacita luarbiasa bagi kita apabila kita memperkenankan salib melakukan pekerjaannya dalam diri kita.


Senin, 13 April 2015

Santa Theresia


Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus



Santa Theresia dari kanak-kanak Yesus dilahirkan di Alemon Perancis pada tgl 2 Januari 1873 dengan nama Maria Francoise Therese Martin. Ia berasal dari sebuah keluarga Katolik yang saleh, pasangan suami isteri Louis Martin dan Azelie Guerin. Ibunya meninggal waktu Theresia masih anak-anak. Sepeninggal ibu Theresia sangat terguncang sehingga Pauline kakaknya terpaksa menggantikan peran ibunya untuk merawat dan memperhatikan perkembangan Theresia.

Theresia sangat disayang oleh ayahnya dan mendapat berbagai julukan seperti "Theresia kecil" atau "Ratu Kecil" dsb. Tahun 1881 sampai 1885 Theresia bersekolah di sekolah suster-suster Benedictin, ia tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang sangat perasa dan cepat menangis sehingga kurang akrab dengan teman-teman sekolahnya. Sifat perasa unu semakin menjadi-jadi ketika Pauline kakak perempuannya masuk biara Carmel di Lisieux tahun1882. Theresia jatuh sakit karena keberangkatan kakaknya itu, namun ia disembuhkan secara ajaib saat kakak-kakaknya berlutut dan berdoa disamping tempat tidur untuk kesembuhannya, penyakitnya hilang seketika meskipun sifat perasanya masih ada. Sifat perasa itu baru hilang setelah dinasihati oleh ayahnya pada perayaan Natal 1886, semenjak itu ia sadar akan sifat buruknya yang manja dan mudah tersinggung itu. Ia sadar bahwa sifat yang kekanak-kanakan itu sudah tidak cocok lagi bagi seorang remaja puteri yang bercita-cita menjadi suster.

Dalam autobiografinya, Theresia menyebutkan bahwa kesadaran ini mengawali kehidupannya yang baru, dimana Yesus telah menyembuhkannya dan menghilangkan sifat kepribadiannya yang buruk. Semenjak saat itu ia sadar bahwa dirinya dipenuhi oleh Roh Kudus, ia sadar bahwa ia harus mengabdikan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Kerinduaanya untuk bersatu dengan kanak-kanak Yesus sangatlah besar dan oleh karena itulah dikemudian hari ia digelari "Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus". Kepada Yesus ia berjanji tidak akan pernah segan untuk melakukan apa saja yang dikehendaki Tuhan darinya. Betapa bahagia hati Theresia ketika pada umur 12 tahun ia boleh menyambut komuni untuk pertama kalinya. Dihadapan sebuah salib ia berjanji : "Yesus di kayu salib yang haus, saya akan memberikan air kepadaMu. Saya bersedia menderita sedapat mungkin agar banyak orang berdosa yang bertobat. Kerinduan Theresia yang begitu besar kepada Yesus mendesak ia untuk menjalani khusus sebagai biarawati mengikuti jejak ke 4 saudaranya yang lebih dahulu menjadi biarawati, namun ia belum bisa diterima di biara karena umurnya baru 14 tahun.

Pada umur 15 tahun saat berziarah ke Roma bersama ayahnya, Theresia dengan meminta izin khusus dari Bapa Suci agar ia diperkenankan menjadi biarawati. Permintaannya dikabulkan dan ia masuk diterima di lingkungan biara Carmelit di Lisieux Perancis.

Sembilan tahun lamanya ia hidup sebagai suster biasa, dan sebagaimana biasanya seorang suster muda, ia setiap hari melaksanakan tugas dan doa harian, harus mengatasi perasaan marah, tersinggung, iri hati, memerangi kebosanan dan berbagai ragam godaan lahir maupun batin. Untuk mencapai kesempurnaan hidup ia memilih "Jalan Sedehana" berdasarkan ajaran kitab suci yaitu hidup selaku anak kecil, penuh cinta dan iman akan kepercayaan Allah serta penyerahan diri yang total dengan penuh perasaan gembira. Demi cita-cita itu ia melakukan hal-hal kecil dan kewajiban sehari-hari dibiara dengan penuh tanggung jawab karena cinta kasihnya yang besar kepada Allah Bapa di surga.

Ia sedih sekali melihat banyak orang menyakiti hati Yesus dengan berbuar dosa dan tidak mau bertobat. Untuk mempertobatkan orang-orang berdosa itu, ia mempersembahkan dirinya sebagai korban pepulih dosa-dosa. Ia rajin berdo'a dan melakukan tapa bagi semua orang berdosa. Ia juga berdoa bagi para missionaris dan kemajuan kerajaan Allah di seluruh dunia.

Sabtu, 11 April 2015

Santo Fransiskus Asisi


St. Fransiskus adalah seorang santo yang hebat yang cocok untuk kamu jadikan teladan hidupmu. Bahkan hingga kini Ordo Fransiskan (O.F.M. = Ordo Fratrum Minorum = Ordo Friars Minor = Ordo Saudara-saudara Dina) yang didirikannya masih terus tumbuh dan berkembang.


Fransiskus dilahirkan di kota Assisi, Italia pada tahun 1181. Ayahnya bernama Pietro Bernardone, seorang pedagang kain yang kaya raya, dan ibunya bernama Donna Pica. Di masa mudanya, Fransiskus lebih suka bersenang-senang dan menghambur-hamburkan harta ayahnya daripada belajar. Ketika usianya 20 tahun, Fransiskus ikut maju berperang melawan Perugia. Ia tertangkap dan disekap selama satu tahun hingga jatuh sakit. Pada masa itulah ia mendekatkan diri kepada Tuhan. Setelah Fransiskus dibebaskan, ia mendapat suatu mimpi yang aneh. Dalam mimpinya, ia mendengar suara yang berkata, "layanilah majikan dan bukannya pelayan."

Setelah itu Fransiskus memutuskan untuk hidup miskin. Ia pergi ke Roma dan menukarkan bajunya yang mahal dengan seorang pengemis, setelah itu seharian ia mengemis. Semua hasilnya dimasukkan Fransiskus ke dalam kotak persembahan untuk orang-orang miskin di Kubur Para Rasul. Ia pulang tanpa uang sama sekali di sakunya. Suatu hari, ketika sedang berdoa di Gereja St. Damiano, Fransiskus mendengar suara Tuhan, "Fransiskus, perbaikilah Gereja-Ku yang hampir roboh". Jadi, Fransiskus pergi untuk melaksanakan perintah Tuhan. Ia menjual setumpuk kain ayahnya yang mahal untuk membeli bahan-bahan guna membangun gereja yang telah tua itu.

Pak Bernardone marah sekali! Fransiskus dikurungnya di dalam kamar. Fransiskus, dengan bantuan ibunya, berhasil melarikan diri dan pergi kepada Uskup Guido, yaitu Uskup kota Assisi. Pak Bernardone segera menyusulnya. Ia mengancam jika Fransiskus tidak mau pulang bersamanya, ia tidak akan mengakui Fransiskus sebagai anaknya dan dengan demikian tidak akan memberikan warisan barang sepeser pun kepada Fransiskus. Mendengar itu, Fransiskus malahan melepaskan baju yang menempel di tubuhnya dan mengembalikannya kepada ayahnya.

Kelak, setelah menjadi seorang biarawan, Fransiskus baru menyadari bahwa yang dimaksudkan Tuhan dengan membangun Gereja-Nya ialah membangun semangat ke-Kristenan.

Pada tanggal 3 Oktober 1226, dalam usianya yang ke empatpuluh lima tahun Fransiskus meninggal dengan stigmata (Luka-luka Kristus) di tubuhnya.

Tidak ada seorang pun dari pengikutnya yang menyerah dan mengundurkan diri setelah kematian Fransiskus, tetapi mereka semua melanjutkan karya cinta kasihnya dengan semangat kerendahan hati dan meneruskan kerinduannya untuk memanggil semua orang menjadi pengikut Kristus yang sejati.

Santo Fransiskus adalah santo pelindung binatang dan anak-anak. Pestanya dirayakan setiap tanggal 4 Oktober.


DOA ST. FRANSISKUS DARI ASSISI



TUHAN, jadikanlah aku pembawa damai.
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.

Ya Tuhan Allah,
ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur;
mengerti daripada dimengerti;
mengasihi daripada dikasihi;
sebab dengan memberi kita menerima;
dengan mengampuni kita diampuni,
dan dengan mati suci kita dilahirkan ke dalam Hidup Kekal.
Amin.

Santa Kristina




Santa Kristina dari Bolsena adalah seorang perawan dan martir yang pestanya dirayakan pada tanggal 24 Juli.[1][2] Ia mati sebagai seorang saksi iman Kristen.[1]

Santa Kristina adalah anak dari seorang gubernur Romawi yang bernama Urbanus.[1] Ayahnya adalah seorang penganiaya orang-orang Kristen.[1] Penganiayaan yang dilakukan oleh ayahnya terhadap orang-orang Kristen, tidak hanya didengar tetapi langsung disaksikan juga oleh Kristina.[1] Kristina kagum akan keberanian dan keteguhan hati orang-orang Kristen dalam menanggung beban penderitaan yang ditimpakan pada mereka.[1] Kesaksian yang langsung dilihatnya ini memengaruhi sikap hidupnya terhadap orang-orang Kristen.[1] Ia lalu tertarik untuk mengetahui lebih jauh kekhasan iman Kristen dan kekuatan ilahi yang meneguhkan hati para martir itu.[1]

Ketika ayahnya mengetahui hal itu, Kristina didera dan disiksa ayahnya sendiri dengan berbagai cara agar ia kembali kepada cara hidupnya yang dahulu (seperti ayahnya).[1] Akan tetapi, semua siksaan itu hanya sia-sia belaka dan semakin memperteguh imannya.[1] Kristina tetap teguh pada imannya sampai akhir hidupnya, yaitu mengikuti teladan martir yang selalu dikaguminya.[1] Ia mati dipenggal oleh para algojo ayahnya pada tahun 300.[1]


Disalin dr Wikipidia

Santa Agnes




Menurut sejarah, Santa Agnes adalah seorang puteri bangsawan Roma yang lahir sekitar tahun 291 dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristiani. Dia wafat sebagai martir saat berusia tiga belas tahun pada masa pemerintahan Kaisar Diocletianus, pada tanggal 21 Januari 304.

Prefek Sempronius berniat menikahkan Agnes dengan puteranya. Karena ditolak niatnya, Sempronius menjatuhkan hukuman mati kepada Agnes. Karena Hukum Romawi tidak memperbolehkan dilaksanakannya eksekusi terhadap gadis perawan, maka Sempronius menyeret Agnes dalam keadaan telanjang bulat sepanjang jalan ke sebuah rumah bordil. Ketika Agnes berdoa, rambutnya tumbuh memanjang hingga menutupi tubuhnya. Konon semua pria yang mencoba memperkosanya tiba-tiba menjadi buta. Dia kemudian digiring keluar dan diikatkan pada sebuah tiang di atas tumpukan kayu bakar agar dibakar hidup-hidup, namun tumpukan kayu bakar itu tidak dapat tersulut api, sehingga kepala pasukan eksekusi menghunus pedangnya lalu memenggal kepala Agnes atau, menurut sejumlah naskah lain, menetakkannya pada tenggorokan Agnes.

Beberapa hari sesudah kematiannya, seorang gadis bernama Emerentiana didapati sedang berdoa di makam Agnes; gadis itu mengaku sebagai puteri dari wanita yang menjadi ibu-susu Agnes, dan kemudian tewas dirajam karena menolak meninggalkan makam itu dan karena mempersalahkan kaum pagan sebagai pembunuh saudari sesusunya. Emerentiana kemudian dikanonisasi pula.

Tulang-tulang Agnes tersimpan dalam gedung Gereja Sant'Agnese fuori le mura di Roma, yang dibangun di atas katakomba yang menjadi tempat makam Agnes. Tengkoraknya tersimpan di sebuah kapel samping di gedung Gereja Sant'Agnese in Agone di Piazza Navona, Roma.

Dalam seni lukis, Agnes dilukiskan sebagai seorang anak perempuan berambut pirang, mengenakan jubah, menggenggam ranting palma, disertai seekor anak domba di dekat kakinya atau dalam gendongannya.


Disalin dr Wikipidia